Pencari batu

Suatu hari di tepi laut Kolbano angin bertiup sejuk. Daun Lontar meliuk-liuk pelan. Aroma asin laut menusuk hidung. Sudah dua jam saya menunggu seorang teman yang berjalan di atas bebatuan pantai. Panasnya Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak membuatnya menghentikan aktivitas konyolnya, mengambil foto batu yang ia anggap menarik.

“Jauh-jauh ke sini kau cuma memfoto batu-batu ini?”

Saya setengah berteriak mencoba mengajaknya mengobrol karena saya sendiri enggan meninggalkan kursi kayu di bawah pepohonan perdu.

Ia tidak mendengar setengah teriakan saya tadi dan tetap melakukan aktivitas berfotonya.

Anjing kampung berwarna cokelat pucat berjalan mengitari kursi kayu yang saya duduki sambil mengendus-ngendus, mungkin berharap ada sedikit sisa makanan dari bekal yang saya bawa. Setelah beberapa kali memutari kursi sepertinya anjing kampung tadi tidak menemukan apa yang ia cari dan akhirnya pergi.

Tiba-tiba dia mendekat dengan membawa segenggam batu. Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya ia letakkkan batu di kepalan tangannya sendiri dan mulai berkata panjang lebar tentang batu-batu yang ia temui. Saya mendengarkan dengan sedikit mengantuk, efek angin pantai, perut kenyang, dan perjalanan jauh dari pusat kota.

“Kamu tau kenapa batu di sini istimewa?”

“Tau, karena batu-batu ini dibawa ke Jawa sebagai penghias taman.”

“Sedih ya, diambil penambang habis-habisan, lama kelamaan bisa hilang batu-batu dari pantai ini.”

“Mungkin di bawah laut Kolbano ini ada pabrik batu, jadi bisa berproduksi terus, jangan khawatir, tenang.”

Ia tidak menyahut dan menganggap lalu apa yang saya utarakan tentang pabrik batu yang memang terdengar sangat konyol.

“Kamu tau kenapa penambang terus berdatangan tanpa mempedulikan wisatawan?”

“Kenapa? karena uang kan?”

“Selain itu?”

“Tidak ada tempat lain selain di sini.”

“Kata siapa?”

“Google.”

“Bukan yahoo? Kau masih pakai itu kan?”

Alamak orang ini sengaja mengatai tentang hal-hal yang sering saya lakukan dengan tools-tools jadul.

“Jadi gimana batunya? Udah nemu ?” Saya pun berusaha membelokkan arah pembicaraan.

” Tau gak kenapa aku sering nemu batu-batu unik pas di pantai ?”

“Kenapa balik nanya, jawab dulu yang tadi.”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Hmm karena hoki? karena sesuai bidang ilmu kuliah?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Kayak kata penulis favoritmu tuh, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.”

Tanpa sempat saya bertanya lebih jauh ia pergi ke arah pantai lagi, meninggalkan saya denga pertanyaan-pertanyaan di kepala.

 

 

#imaginarydialogue

 

Advertisements

“Hadap Kiri….GRAK!”

Kemarin sore saat saya pulang, seperti biasanya saya melewati deretan unit marketing, lalu lobby dan keluar lewat pintu utama kantor. Bau wangi tanaman rempah menyeruak ke dalam hidung. Seperti bau jamu tapi ya mana ada orang jual jamu sore-sore. Ternyata ada tumbuhan yang ditata rapi di depan lift dan inilah yang menjadi sumber bau.

Tapi inti cerita ini bukan di bau tanaman jamu tadi. Jadi saat saya keluar dari kantor ada dua barisan orang di dekat meriam dan banyak sekali jumlahnya. Seperti mau apel karena barisannya sudah rapi tinggal menunggu instruksi selanjutya. Mereka memakai seragam warna merah seperti biasanya dan saya terus melenggang pergi ke arah kanan kantor.

Tiba-tiba ada suara teriakan,”Hadap Kiri GRAAK!!”

Lah mendengar teriakan itu otomatis saya langsung berhenti dan melihat ke arah mereka dan ternyata olala~ tak lama kemudian di depan saya ada seorang wanita cantik dengan gaun merah menjuntai lantai. Seorang wanita lain terlihat memegangi sisi belakang gaun. Wanita tersebut sepertinya tak memerdulikan tatapan puluhan pasang mata pria yang berbaris dan terus berjalan setengah tergopoh-gopoh masuk kantor.

Suara cekikian terdengar dari barisan, oh la la~ dasar manusia wkwk

Kereta Makan

“He tukuen rek jajane ojok dideloki ae.”

wkwk

Jadi di kantor saya tiap pagi sekitar jam 10 dan siang jam 2 ada orang yang masuk ke dalam kantor dan menjual jajan, nah kan gimana saya bisa menahan godaan jajan lucu-lucu ituuu 😦

Biasanya orang menjual makanan masuk ke dalam kantor dengan membawa semacam gledekan aduh bahasa indonesianya apa ya pokoknya seperti papan kayu yang diberi roda dan pegangan tangan.

Makanan yang dijual pun bervariasi dari mulai jajan buat ngemil seperti tahu isi, pisang goreng hingga makanan sehat seperti aneka jus buah dan potongan buah.

Tiap kali kereta makan ini lewat saya selalu memutar kepala dan melongok melihat apa yang dibawa si kereta, kalau sedang ingin membeli ya dibeli kalau yang dibawa itu-itu saja dan saya sedang bosan jajan ya dibiarkan begitu saja ~ wkwk

 

ps: tapi ini cobaan terberat di kantor saya 😦

just be you..

“he gendut e diet o kono.”

Itu adalah ucapan seorang kawan yang beberapa waktu lalu pernah bertemu saya. Lah situ siapa ? Apa hubungannya saya gendut dengan kehidupan Anda? wkwk~

Di sisi lain ketika saya masuk di kantor saya yang baru ada  proses doktrin untuk ,” Kamu gak boleh kurus di sini, harus gendut!” oleh salah seorang kawan kantor saya yang usianya sudah akan pensiun.

Memang saya mengakui di kantor pasti banyak acara yang ada konsumsinya atau jajan cemil-cemil di sekitar kantor (yang dekat kampus) membuat saya tak pernah pusing akan makan siang dan jajan apa haha :p dan untuk mengimbangi hal tersebut setiap pagi setelah turun dari Suroboyo Bus saya berjalan kaki dari Royal Plaza menuju kantor saya.

Jauh, hampir 1 km tapi saya senang karena bisa lihat banyak makanan yang berjajar rapi di tepi jalan (anaknya gampang banget dibikin seneng haha)

Jadi inti dari postingan yang agak gak jelas ini, hmm kita sendiri yang pantas untuk mendefiniskan bagaimana “bentuk” dan “postur” tubuh kita bukan orang lain. Kalau kita senang dan bahagia dengan kondisi kita yang sekarang ya sudah ndak udah direken kalau ada teman yang bilang seperti postingan di atas ya mungkin temenmu cuma lihat orang lain dari sisi fisik tanpa memperhatikan faktor lain ~ Tapi tetep olahraga jangan dilupakan yaw.

Met Hari Selasa, Semoga teror di Surabaya segera berakhir aamiin!

tiba-tiba

Tadi pagi sekitar pukul 10.00 saya diantar teman menuju kampus negeri di samping kantor saya untuk menuju pusat bahasa. Setelah masuk nampak antrean mahasiswa yang akan mengikuti tes, wajah mereka ada yang tegang ada yang sepertinya menyembunyikan ketegangan dengan bercanda dengan kawannya.

Saya masuk ke dalam ruangan yang sedikit sepi. Petugas lalu mengarahkan saya unttuk mengisi formulir. Tidak susah formulirnya hanya berisi nama, alamat, tanggal lahir, dan nomor ktp. Semuanya saya isi dalam waktu tidak kurang dari 2 menit. Oh iya saya hafal nomor ktp saya yang panjang itu jadi tidak lama bagi saya ketika mengisi kolom nomor identitas (saya juga hafal nomor rekening bank saya) #infogakpentingsih haha.

Selesai “mengerjakan” formulir saya menyerahkan ke petugas.

“450 ya mbak dibayar cash.”

“Oh cash ya mbak, gak bisa ditransfer?”

“Gak bisa mbak.”

Hati saya tiba-tiba terasa ragu. Di dompet saya hanya tersisa uang empat puluh ribu.

“Hmm ya udah mbak saya ke atm dulu ya.”

Petugas yang melayani lalu kembali sibuk di kubikel kerjanya.

Saya berjalan menuju atm bank swasta di universitas tersebut. Setelah menarik uang sejumlah biaya tes saya keluar dan terdiam sesaat. Hati saya tiba-tiba berkata:

Yakin mau bayar tes ini, kenapa gak tes di universitas tujuan nanti? Masalah izin kantor? Bisa didiskusikan sama manajer, wong santai-santai kok orangnya.

Detik itu pun saya membuka gawai dan mengecek jadwal yang sebenarnya saya hafal tanggal dan jamnya.

Saya pun berjalan kaki kembali ke kantor dengan bergumam ,” Dia memang sebenar-benarnya pemilik hati, bisa menggerakkan hati yang awalnya keukeuh akan tes di universitas sebelah kampus tiba-tiba dalam hitungan detik saja memutuskan untuk tes di kampus tujuan.”

Allahuakbar…

Semoga lancar langkah ini mencari ilmuMu..

 

Ketintang, 11:31

 

“Sudah ada jalannya..”

pexels-photo-1006134.jpeg
Pada suatu hari di perjalanan menuju rumah, saya mengobrol dengan teman saya untuk mengusir kebosanan.  Sebagai manusia yang sedang mengalami “quarter-life-crisis” topik obrolanpun tak jauh dari pekerjaan, mimpi, dan ekspektasi yang belum bisa terwujud.

“Hidup kita memang sudah ada jalannya ya, aku gak pernah mikir loh bakal kerja di bidang IT sebagai programmer padahal dulu pas kuliah aku buang jauh-jauh kata programmer dari list pekerjaan. Tapi sekarang malah jadi kuli kode.”

Teman saya belum menimpali, saya terus berceloteh.

“Dulu pengennya kerja bidang A, tapi banyak banget hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Bisa banget aku milih bidang A ini bahkan gak perlu ribet tes ini lah itu lah, tapi ya hidup gak segampang itu. Oi ngomong dong haha.”

Teman yang duduk di samping saya kemudian mengiyakan. Sebagai pendengar keluh kesah masa-masa quarter-life-crisis saya, entah dia sepertinya sudah bosan mendengar saya yang tidak bisa mengambil pekerjaan yang saya impikan, dia terus mendengar dan sesekali menimpali.

“Padahal kan kita dulu kuliah mulainya bareng, berangkat dari nol semua, tapi sekarang ada yang kerja di A, B, C dan ada yang meninggal juga. Hidup benar-benar sudah ada jalannya, sudah ada yang mengatur..”

Seketika saya diam mendengar kata-kata meninggal dan teringat saat saya takziah ke rumah kawan ukm voli saya yang meninggal karena kecelakaan beberapa saat yang lalu.

Hidup memang sudah ada jalannya masing-masing, sekeras apapun berusaha kalau memang belum waktunya untuk sesuatu hal, ya mau bagaimana lagi, nikmati dan jalani dengan ikhlas saja 🙂

–Ditulis saat sedang mencari “bug” yang belum juga ditemukan dari 15 menit yang lalu–

Belajar dari Interstellar

Hikmah terbesar setelah saya menonton film Interstellar adalah kesadaran bahwa saya ini keciiil banget banget banget di alam semesta. Meskipun banyak sekali film serupa Interstellar tapi ndak tau kenapa film ini yang paling menyadarkan saya untuk tidak sombong. Maluu pol kalau mau sombong di alam semesta ini:(

giphy

Postingan ini ya memang segini aja hehe intinya salah satu film favorit saya ya Interstellar ini eh ada lagi sama The Secret Life of Walter Mitty, Top!!!

Kalau film favoritmu apa?

 
ps: setelah tumblr ditutup (gak masuk akal alasan kominfo nutup tumblr padahal di sana saya ngeblog dari zaman sma) saya bakal pindah ke wordpress ini. See you next post! (ingetin saya kalau khilaf sombong ya ._.)