Body Shaming..Huh!

Body-Shaming1Body-Shaming1

Beberapa waktu yang lalu saya pernah sekamar dengan seorang putri kecantikan dari Sumatera Utara, dia pun ternyata juga pernah menyabet gelar Miss ASEAN Friendship 2017. Sungguh luar biasa..

Nah citra seorang putri kecantikan yang anggun, hemat bicara, dan embel-embel lainnya yang tertanam di otak saya lebur sudah ketika saya berhadapan dengan si Putri ini (hmm namanya memang benar-benar Putri ya). Jadi dia ini benar-benar sosok yang humble, gak sombong sama sekali, kalau ngomong mirip banget sama mamak beti, dan sebagai sosok putri dengan begitu banyak gelar yang didapatnya, dia yang saya kira harus memakai amenities merk ternama, lah tiba-tiba bilang ke saya:

”ima bagi shampo dong.” (kami sama-sama angkatan 2012 waktu kuliah ternyata jadi makin nyaman ngobrolnya..)

Pusing lah saya mana mau dia ini pakai shampo dari pouch airy yang saya bawa karena sangat ringkas dan mudah di bawa ke  mana-mana (bukan sponsor ) karena sepengalaman teman-teman saya yang mengikuti kegiatan serupa sangat high maintenance sekali lah mereka ini wkwk.

“adanya shampo airy nih put.”

“ah bebas aku shampo apa aja.”

Nyoh ambil-ambil put wkwk

Suatu saat dia tiba-tiba bilang ke saya.

“Pusing lah aku ini banyak kali dm sama komen di instagram nanya aku gendutan, pipiku chubby, dann lainnya.”

Dia pun meneruskan celotehnya, saya mencoba mendengarnya dengan seksama bagaimana ratu kecantikan ini berkeluh kesah perihal body shaming yang dialaminya. Bagi kalian yang melihat langsung si putri ini akan langsung mengernyitkan dahi kalau dia bilang gendut.

Putri, dengan follower puluhan ribuannya dan gelar ratu kecantikannya sangat sering mengalami body shaming. Bagi kalian yang menganggap bahwa ini hal sepele atau berfikir bahwa “duh imama sensitif amat, selo kali ma..”

Tunggu..

Kalau yang mengatakan itu teman dekat yang sering sekali bertemu saya akan menganggapnya wajar dan tidak akan ambil pusing tapi kalau orang yang frekuensi bertemunya sangat jarang, boleh dibilang hanya dalam hitungan jari saja dalam setahun, “wah ada yang gak beres sama orang ini..”

Kalau kalian membaca buku Impressed karya istrinya Ernest di sana kalian akan sangat mengerti bagaimana seorang wanita sangat sering mengalami body shaming ini.

Ada begitu banyak kasus serupa yang terjadi pada saya, putri, dan Mbak Meira istrinya Ernest. Memang apa yang sudah kita posting di sosial media akan menjadi konsumsi publik. Netizen yang suka sekali mengomentari bentuk badan kita ini berlindung di balik kata-kata “bebas lah aku komentar apa kan udah di sosial media.” Hey hey tidak kah kalian belajar etika?

Saya yang beberapa kali mengalami body shaming makin ke sini makin bisa mengontrol emosi, kalau dulu saya kesal dan sifat saya yang over thinker memperparah hal tersebut saat ini sudah lebih bisa mengendalikannya, meskipun ya kadang-kadang masih kesal-kesal sedikit, wajar doong haha. Saya banyak belajar dari buku Impressed tentang bagaimana menerima keadaan tubuh yang ya gimana ya sudah diberi seperti ini oleh Allah, sehat aja saya sudah harus sangat sangat bersyukur. Dan satu lagi prinsip saya, kalau saya memang tidak nyaman dengan keadaan badan yang misal mulai susah gerak karena berat badan yang terus menerus naik, saya harus berubah untuk alasan diri sendiri bukan dari gara-gara komentar netyzen atau orang lain..

Si Mbak Meira yang banyak sekali dikomentari perihal pilihannya memotong pendek rambutnya, “Kalau mau rambut panjang boleh, asal dilakukan untuk diri sendiri dan atas keinginan sendiri, bukan untuk memuaskan orang lain. Kalau untuk orang lain, itulah yang salah.”

Kalau kata teman sekamar saya saat di Cirebon ini yang saya ceritakan soal body shaming yang terjadi  di masa kini dia pun berkomentar,”It’s not about me, it’s about you and all your words. Iri aja kali dia..”

Terakhir, mengutip dari bukunya Mbak Meira..

Daripada terlalu fokus pada kesempurnaan orang lain yang sering kita lihat, mendingan kita fokus untuk menjadi sempurna bagi diri kita sendiri.

Semangat sobat-sobatque yang pernah mengalami body shaming..

Advertisements

Pencari batu

Suatu hari di tepi laut Kolbano angin bertiup sejuk. Daun Lontar meliuk-liuk pelan. Aroma asin laut menusuk hidung. Sudah dua jam saya menunggu seorang teman yang berjalan di atas bebatuan pantai. Panasnya Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak membuatnya menghentikan aktivitas konyolnya, mengambil foto batu yang ia anggap menarik.

“Jauh-jauh ke sini kau cuma memfoto batu-batu ini?”

Saya setengah berteriak mencoba mengajaknya mengobrol karena saya sendiri enggan meninggalkan kursi kayu di bawah pepohonan perdu.

Ia tidak mendengar setengah teriakan saya tadi dan tetap melakukan aktivitas berfotonya.

Anjing kampung berwarna cokelat pucat berjalan mengitari kursi kayu yang saya duduki sambil mengendus-ngendus, mungkin berharap ada sedikit sisa makanan dari bekal yang saya bawa. Setelah beberapa kali memutari kursi sepertinya anjing kampung tadi tidak menemukan apa yang ia cari dan akhirnya pergi.

Tiba-tiba dia mendekat dengan membawa segenggam batu. Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya ia letakkkan batu di kepalan tangannya sendiri dan mulai berkata panjang lebar tentang batu-batu yang ia temui. Saya mendengarkan dengan sedikit mengantuk, efek angin pantai, perut kenyang, dan perjalanan jauh dari pusat kota.

“Kamu tau kenapa batu di sini istimewa?”

“Tau, karena batu-batu ini dibawa ke Jawa sebagai penghias taman.”

“Sedih ya, diambil penambang habis-habisan, lama kelamaan bisa hilang batu-batu dari pantai ini.”

“Mungkin di bawah laut Kolbano ini ada pabrik batu, jadi bisa berproduksi terus, jangan khawatir, tenang.”

Ia tidak menyahut dan menganggap lalu apa yang saya utarakan tentang pabrik batu yang memang terdengar sangat konyol.

“Kamu tau kenapa penambang terus berdatangan tanpa mempedulikan wisatawan?”

“Kenapa? karena uang kan?”

“Selain itu?”

“Tidak ada tempat lain selain di sini.”

“Kata siapa?”

“Google.”

“Bukan yahoo? Kau masih pakai itu kan?”

Alamak orang ini sengaja mengatai tentang hal-hal yang sering saya lakukan dengan tools-tools jadul.

“Jadi gimana batunya? Udah nemu ?” Saya pun berusaha membelokkan arah pembicaraan.

” Tau gak kenapa aku sering nemu batu-batu unik pas di pantai ?”

“Kenapa balik nanya, jawab dulu yang tadi.”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Hmm karena hoki? karena sesuai bidang ilmu kuliah?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Kayak kata penulis favoritmu tuh, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.”

Tanpa sempat saya bertanya lebih jauh ia pergi ke arah pantai lagi, meninggalkan saya denga pertanyaan-pertanyaan di kepala.

 

 

#imaginarydialogue

 

“Hadap Kiri….GRAK!”

Kemarin sore saat saya pulang, seperti biasanya saya melewati deretan unit marketing, lalu lobby dan keluar lewat pintu utama kantor. Bau wangi tanaman rempah menyeruak ke dalam hidung. Seperti bau jamu tapi ya mana ada orang jual jamu sore-sore. Ternyata ada tumbuhan yang ditata rapi di depan lift dan inilah yang menjadi sumber bau.

Tapi inti cerita ini bukan di bau tanaman jamu tadi. Jadi saat saya keluar dari kantor ada dua barisan orang di dekat meriam dan banyak sekali jumlahnya. Seperti mau apel karena barisannya sudah rapi tinggal menunggu instruksi selanjutya. Mereka memakai seragam warna merah seperti biasanya dan saya terus melenggang pergi ke arah kanan kantor.

Tiba-tiba ada suara teriakan,”Hadap Kiri GRAAK!!”

Lah mendengar teriakan itu otomatis saya langsung berhenti dan melihat ke arah mereka dan ternyata olala~ tak lama kemudian di depan saya ada seorang wanita cantik dengan gaun merah menjuntai lantai. Seorang wanita lain terlihat memegangi sisi belakang gaun. Wanita tersebut sepertinya tak memerdulikan tatapan puluhan pasang mata pria yang berbaris dan terus berjalan setengah tergopoh-gopoh masuk kantor.

Suara cekikian terdengar dari barisan, oh la la~ dasar manusia wkwk

Kereta Makan

“He tukuen rek jajane ojok dideloki ae.”

wkwk

Jadi di kantor saya tiap pagi sekitar jam 10 dan siang jam 2 ada orang yang masuk ke dalam kantor dan menjual jajan, nah kan gimana saya bisa menahan godaan jajan lucu-lucu ituuu 😦

Biasanya orang menjual makanan masuk ke dalam kantor dengan membawa semacam gledekan aduh bahasa indonesianya apa ya pokoknya seperti papan kayu yang diberi roda dan pegangan tangan.

Makanan yang dijual pun bervariasi dari mulai jajan buat ngemil seperti tahu isi, pisang goreng hingga makanan sehat seperti aneka jus buah dan potongan buah.

Tiap kali kereta makan ini lewat saya selalu memutar kepala dan melongok melihat apa yang dibawa si kereta, kalau sedang ingin membeli ya dibeli kalau yang dibawa itu-itu saja dan saya sedang bosan jajan ya dibiarkan begitu saja ~ wkwk

 

ps: tapi ini cobaan terberat di kantor saya 😦

just be you..

“he gendut e diet o kono.”

Itu adalah ucapan seorang kawan yang beberapa waktu lalu pernah bertemu saya. Lah situ siapa ? Apa hubungannya saya gendut dengan kehidupan Anda? wkwk~

Di sisi lain ketika saya masuk di kantor saya yang baru ada  proses doktrin untuk ,” Kamu gak boleh kurus di sini, harus gendut!” oleh salah seorang kawan kantor saya yang usianya sudah akan pensiun.

Memang saya mengakui di kantor pasti banyak acara yang ada konsumsinya atau jajan cemil-cemil di sekitar kantor (yang dekat kampus) membuat saya tak pernah pusing akan makan siang dan jajan apa haha :p dan untuk mengimbangi hal tersebut setiap pagi setelah turun dari Suroboyo Bus saya berjalan kaki dari Royal Plaza menuju kantor saya.

Jauh, hampir 1 km tapi saya senang karena bisa lihat banyak makanan yang berjajar rapi di tepi jalan (anaknya gampang banget dibikin seneng haha)

Jadi inti dari postingan yang agak gak jelas ini, hmm kita sendiri yang pantas untuk mendefiniskan bagaimana “bentuk” dan “postur” tubuh kita bukan orang lain. Kalau kita senang dan bahagia dengan kondisi kita yang sekarang ya sudah ndak udah direken kalau ada teman yang bilang seperti postingan di atas ya mungkin temenmu cuma lihat orang lain dari sisi fisik tanpa memperhatikan faktor lain ~ Tapi tetep olahraga jangan dilupakan yaw.

Met Hari Selasa, Semoga teror di Surabaya segera berakhir aamiin!

“Sudah ada jalannya..”

pexels-photo-1006134.jpeg
Pada suatu hari di perjalanan menuju rumah, saya mengobrol dengan teman saya untuk mengusir kebosanan.  Sebagai manusia yang sedang mengalami “quarter-life-crisis” topik obrolanpun tak jauh dari pekerjaan, mimpi, dan ekspektasi yang belum bisa terwujud.

“Hidup kita memang sudah ada jalannya ya, aku gak pernah mikir loh bakal kerja di bidang IT sebagai programmer padahal dulu pas kuliah aku buang jauh-jauh kata programmer dari list pekerjaan. Tapi sekarang malah jadi kuli kode.”

Teman saya belum menimpali, saya terus berceloteh.

“Dulu pengennya kerja bidang A, tapi banyak banget hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Bisa banget aku milih bidang A ini bahkan gak perlu ribet tes ini lah itu lah, tapi ya hidup gak segampang itu. Oi ngomong dong haha.”

Teman yang duduk di samping saya kemudian mengiyakan. Sebagai pendengar keluh kesah masa-masa quarter-life-crisis saya, entah dia sepertinya sudah bosan mendengar saya yang tidak bisa mengambil pekerjaan yang saya impikan, dia terus mendengar dan sesekali menimpali.

“Padahal kan kita dulu kuliah mulainya bareng, berangkat dari nol semua, tapi sekarang ada yang kerja di A, B, C dan ada yang meninggal juga. Hidup benar-benar sudah ada jalannya, sudah ada yang mengatur..”

Seketika saya diam mendengar kata-kata meninggal dan teringat saat saya takziah ke rumah kawan ukm voli saya yang meninggal karena kecelakaan beberapa saat yang lalu.

Hidup memang sudah ada jalannya masing-masing, sekeras apapun berusaha kalau memang belum waktunya untuk sesuatu hal, ya mau bagaimana lagi, nikmati dan jalani dengan ikhlas saja 🙂

–Ditulis saat sedang mencari “bug” yang belum juga ditemukan dari 15 menit yang lalu–